Translate

Jumat, 14 September 2012

Dewa Yadnya


DEPARTEMEN AGAMA
DIREKTORAT JENDERAL BIMBINGAN MASYARAKAT HINDU DAN BUDHA
Jl. Lapangan Banteng Barat Nomor 3-4 Telp. 3812232, 38115004, 3812446, 3811227
JAKARTA


SAMBUTAN DIREKTUR JENDERAL BIMBINGAN MASYARAKAT HINDU DAN BUDHA

Dengan diterbitkannya brosur Pedoman Manggala Upacara, kami menyambut baik dan itu artinya kita telah bekerja dan berbuat punia dan bhakti serta ikut berpartisipasi aktif dan bertanggung jawab dalam pembangunan di bidang agama. Brosur ini dihimpun, dimaksudkan sebagai alat bantu bagi umat Hindu terutama bagi umat yang mengabdikan dirinya di masyarakat sebagai Manggala Upacara. Di samping itu akan dapat diperkaya khasanah yang bermanfaat bagi petugas Manggala Upacara, yang terpenting lagi adalah upacara peningkatan sradha dan bhakti ke hadapan Sang Hyang Widhi Tuhan Yang Maha Esa. Isi brosur ini sangat praktis, karenanya kapada semua pihak untuk dapat mengembangkannya. Kepada para petugas Manggala Upacara Agama Hindu pemakai brosur ini diharapkan benar sesungguhnya untuk mengadakan pengembangan korelatif sehingga dengan demikian akan menjadi pondasi yang kuat bagi seorang sebagai penyampai pesan nilai keagamaan Hindu.
Akhirnya kepada para penghimpun dan penerbit brosur ini, kami turut mengucapkan terima kasih serta menyambut untuk disebar-luaskan.
Jakarta, 1 Agustus 1997
DIREKTUR JENDERAL
BIMBINGAN MASYARAKAT HINDU DAN BUDHA  


I WAYAN GUNAWAN

KATA PENGANTAR

Om Awighnam Astu

Ya Tuhan, semoga tidak ada aral melintang.
Dalam menghadapi perkembangan agama Hindu yang penganutnya makin banyak jumlahnya dan makin menyebar tempatnya diseluruh pelosok tanah air Indonesia, makin terasa betapa pentingnya brosur-brosur agama yang dapat dipakai sebagai pedoman dan petunjuk dalam menjalankan ajaran agama secara baik dan sederhana tanpa mengurangi inti sarinya. Banyak usaha yang telah dilakukan oleh Parisada Hindu Dharma dalam usahanya mengurangi kesukaran yang dihadapi oleh umatnya, namun perkembangan yang tidak sebanding dengan kemampuan mengimbangi kebutuhan-kebutuhan yang mendesak menyebabkan timbul perasaan yang tidak puas dikalangan umatnya dan merasa seolah-olah tidak ada bimbingan sama sekali yang dapat diberikan oleh lembaga keagamaan itu. Disamping faktor yang telah saya kemukakan itu faktor yang lain seperti ketidakmampuan nayaka-nayaka Hindu Dharma karena pengetahuan agama ini baru dibuka seluas-luasnya kepada masyarakat. Sebelumnya hanya terbatas kepada lingkungan elite dari kaum brahmana. Telah bertahun dan berabad lamanya agama Hindu dirahasiakan pengajarannya sehingga menimbulkan banyak kritik dan cemohan. Terdorong oleh perasaan rasa ingin mengabdi dan mengingat masih terasanya kekurangan-kekurangna itu, terpikirlah oleh saya untuk mencoba menulis kembali naskah-naskah yang kiranya sekarang dirasakan perlu oleh umat yang tersebar diseluruh pelosok tanah air. Sebelum saya memulai tulisan ini dengan segala kerendahan hati saya harus mengakui kekurangan diri saya sendiri lebih-lebih dalam meneliti ajaran yang telah lama jiwanya dipegang oleh Ida Pedanda di Bali. Brosur Manggala ini bukan merupakan usaha baru dari saya tetapi telah dirintis jauh sebelumnya. Namun belum dirasakan manfaatnya karena itu saya memberanikan diri untuk menulisnya kembali menurut pengertian dan pemahaman saya sendiri. Saya harus mengakui pula kelemahan isi brosur ini karena tidak cukup banyak waktu untuk mengkajinya disamping kesibukan-kesibukan yang saya hadapi yang meminta sebagian dari pada waktu yang tersedia. Dengan mengingat kenyataan dan faktor-faktor lainnya itu saya tidak dapat mengingkari bahwa saya tidak akan dapat memberikan kepuasan kepada pembaca maupun pemakaian brosur ini. Namun dibalik kekurangan itu saya masih optimis bahwa bagaimanapun kecilnya sumbangan yang dapat saya berikan akan lebih baik artinya dari pada tidak ada sama sekali, dan karena itu setidak-tidaknya brosur ini tetap mempunyai arti yang bermanfaat bagi sipemakai. Saya selalu membuka hati yang selebar-lebarya untuk menerima kritik dan tegur sapa pembaca yang membangun karena saya yakin dengan tegur sapa itu saya akan dapat lebih menyempurnakan isi brosur ini dikemudian hari sehingga nantinya akan lebih mendekati selera dan keinginan namun diatas duri dan batu-batu itulah saya akan meratakan jalan itu untuk mengantarkan ke arah yang dicita-citakan.
Dalam mengakhiri kata pengantar ini saya tidak lupa menyampaikan puji setinggi-tingginya atas petunjuk-petunjuk yang diberikan oleh Sang Hyang Widhi, sehingga terlaksana cita-cita saya. Saya tak lupa mengucapkan terima kasih juga kepada para Rsi yang telah membuka kuncup hati saya untuk dapat membuka kunci rahasia yang selama ini terpendam rapat.
Akhir kata saya harus menyampaikan rasa terima kasih kepada rekan-rekan dan para sulinggih yang memberikan bimbingan kepada saya dengan demikian saya dapat mempersembahkan brosur Manggala Upacara ini kepada masyarakat semoga dengan adanya brosur ini akan membuka jalan bagi kita semua menuju pada kehidupan spiritual yang lebih tinggi.

Om Santih, Santih, Santih Om.

Penghimpun


DAFTAR ISI
SAMBUTAN DIRJEN BIMAS HINDU DAN BUDHA
KATA PENGANTAR 
DAFTAR ISI 
1. PENDAHULUAN
2. TUGAS MANGGALA UPACARA
A. PERSIAPAN
B. SIKAP DASAR MANGGALA UPACARA
C. PENGAKSAMA
D. MOHON TIRTA
E. MENGATURKAN BANTEN BYAKAWON, PRAYASCITTA, DURMANGALA
F. MENSUCIKAN SESAJEN
G. MENGATURKAN SESAJEN
H. PERSEMBAHYANGAN BERSAMA
I. PUJI PRALINA
J. PENUTUP

BEBERAPA PELAKSANAAN UPACARA MANUSIA YADNYA
- PAGEDONG-PAGEDONGAN
- UPACARA AKAMBUHAN (42 HARI)
- UPACARA TIGA BULANAN (NYAMBUTIN)
- UPACARA OTON
- PENUTUP
- DAFTAR KEPUSTAKAAN

1.PENDAHULUAN

Untaian kalimat merdu dan indah berupa puja dan puji serta syukur kehadapan Sang Hyang Widhi , Tuhan Yang Maha Esa atas anugerah beliau sehingga kita bisa mengemban amanat kehidupan ini dengan sebaik-baiknya. Jika kita renungi lebih jauh, maka ada manfaat positif yang dapat kita nikmati secara tidak langsung dari pernyataan syukur kita atas seluruh anugerah-Nya walaupun terkadang kita sering terlena sehingga melupakan semua ini. Namun sesungguhnya rasa syukur sudah semestinya kita wujud nyatakan sebagai suatu perilaku sadar yang berkesinambungan, karena perilaku tersebut sangat kita butuhkan untuk kesempurnaan diri kita. Jika kita sudah mampu berprilaku sadar untuk bersyukur dan berterima kasih lebih-lebih kepada Sang Hyang Widhi, berarti secara mental dari lubuk hati yang paling dalam kita telah memberi pengakuan atas kemaha kuasaan Sang Hyang Widhi, yang kita rasakan sebagai anugerah untuk melengkapi atau kesempurnaan hidup kita. Apabila rasa yang demikian telah tumbuh dalam diri kita berarti rasa aku dan ego atau ahamkara, telah berada dibawah penguasaan pikiran sadar (budhi). Selama budhi ajeg memegang kendali dalam diri manusia, selama itu pula ia akan tetap melihat atau mengenali antara kebaikan dan keburukan atau kebenaran dan kesalahan. Hal ini berarti dengan kondisi seperti itu orang akan bisa menghindari perbuatan-perbuatan yang dilarang dan melaksanakan sesuatu yang patut dilaksanakan dalam hidupnya. Kondisi mental spiritual yang tumbuh subur dalam diri akan senantiasa mendorong kita menjalankan kehidupan yang benar, sebagai yang diwahyukan oleh Sang Hyang Widhi. Ternyata prilaku sadar dengan mensyukuri dan ucapan terima kasih yang muncul dari hati yang murni serta tulus yang sepintas terlihat sepele, kecil, ternyata mengandung nilai pendidikan yang sangat mendasar. Sehingga perilaku tersebut patut kita galang menjadi suatu tradisi untuk merintis kepribadian yang baik. Untuk dapat membantu para pemakai brosur ini saya pandang perlu untuk memberikan beberapa pengertian sebagai pendahuluan dalam rangka usaha untuk memahami segala aspek persoalan yang terkandung didalam catatan kecil naskah-naskah mantra yang terdapat di Bali, yang lazim dipakai oleh para pendeta. Saya yakin bahwa tanpa satu pola tertentu yang akan dipaparkan dalam bagian pendahuluan ini, para pembaca akan banyak membuang waktu dengan sia-sia, menghafal dan meragakan tanpa menyadari apa yang dimaksudkan dalam mantra itu. Brosur ini ditulis sebagai bahan pedoman bagi Manggala Upacara guna melengkapi bahan bacaan yang benar-benar diperlukan lebih-lebih untuk dapat memahami dan mendalami ajaran agama Hindu. Bagi yang baru pertama kali mengenal ajaran agama Hindu, buku ini dapat dipergunakan sebagai buku petunjuk atau sebagai brosur penuntun dalam mempelajari ajaran agama Hindu selanjutnya. Ada baiknya kalau saya anjurkan pula untuk menambah bacaan tentang agama itu sehingga dengan demikian akan memperluas pengertian timbal balik yang timbul dari hasil penambahan ilmu itu. Tanpa tambah-tambahan itu, brosur ini tidak dapat memberikan sumbangan yang besar kepada para pemakainya. Adapun mereka yang ingin menerjunkan diri kedalam dunia rohani dan mistik brosur ini dapat dipandang sebagai Brosur pengantar menuju kepada pemikiran dunia mistik yang sampai sekarang masih hidup dalam masyarakat karena tidak banyak yang mengetahui apa yang dimaksudkan dengan ilmu mistik telah berakibat timbulnya kesalah pahaman dan penyalah gunaannya dengan akibat akibat yang menyedihkan. Saya harus peringatkan bahwa brosur ini bukan merupakan buku mistik karena tujuan penulisan brosur ini sekedar dimaksudkan untuk menghimpun beberapa jenis mantra yang umum dipakai oleh para Pendeta (Pedanda) di Bali, Mantra-mantra ini umum dipakai di Indonesia sejak mulai agama Hindu berkembang di Indonesia. Mantra-mantra ini pula yang dipakai oleh para Rsi dan Bujangga dari Kerajaan Majapahit. Sangat disayangkan bahwa mantra-mantra itu tidak lagi banyak terdapat di Jawa kecuali lirik-lirik monumen yang masih dapat diperkirakan masih banyak sangkut pautnya dengan mantra yang dipakai sekarang di Bali. Brosur ini dihimpun dengan maksud akan dapat dimanfaatkan oleh pinandita, calon pendeta, calon wasi, calon bujangga, calon pemangku, calon guru agama, calon pemuka agama dalam masyarakat, calon pemimpin upacara agama, pendeknya untuk mereka yang akan berkecimpung dalam kegiatan keagamaan, brosur ini akan bermanfaat bagi mereka. Namun satu hal yang perlu saya kemukakan ialah bahwa brosur ini tidaklah sesempurna atau selengkap harapan para pemakainya karena brosur kecil ini hanya sekedar diusahakan untuk memenuhi kebutuhan minimal dari sekian banyak kebutuhan yang diperlukan. Masih banyak mantra-mantra yang belum terkumpul, masih banyak mantra-mantra yang belum terjamah karena diluar kemampuan saya. Dalam serba kekurangan itu saya berusaha menyuguhkan kitab Manggala Upacara dengan serba kekurangannya dimana diharapkan dimasa-masa yang akan datang akan banyak pula penulis-penulis yang akan dapat menambahinya. Sebelum memahami urutan-urutan tentang sikap Manggala/ Pinandita pada waktu memimpin upacara maka saya uraikan secara garis-garis besarnya urutan-urutan yang akan dibahas pada halaman berikutnya antara lain :

A. Persiapan
1. Memakai busana;
    a. Mewastra (memakai kain panjang)
    b. Mekampuh (kain yang dipakai/yang diikatkan dipinggang setelah kain panjang bentuknya lebih kecil
        dari kain panjang)
    c. Mapetet (kain yang menyerupai selendang yang diikatkan sebagai ikat pinggang)
    d. Makawaca (kain yang diikatkan dikepala / udeng sebagai penutup kepala).
2. Persiapan sarana dan prasarana manggala upacara;
3. Menaruh sesaji dipelinggih atau pada tempat yang telah disediakan;
4. Menaruh Padupaan dipelinggih;
5. Menaruh air ditempat yang telah disiapkan atau pelinggih untuk memohon tirta pengelukatan/tirta
    wangsuhpada.

B. Sikap Dasar Manggala Upacara
1. Cuci tangan
2. Asana (sikap bersila/bersimpuh)
3. Pranayama
4. Karosodhana
5. Bakar dupa/pasepan
6. Menghirup asap dupa dan tangan diasapi
7. Mensucikan bija
8. Menuntun atma
9. Menghurip genta/memberi mantra genta
10. Memohon Sang Hyang Widhi berstana di Padmasana atau pada tempat yang telah disediakan.
11. Mengayat para Dewa
12. Menghaturkan sembah kepada para dewa
13. Menyambut Bhatara dan para Dewa
14. Menghaturkan asep kepada para Dewa dan Bhatara.

C. Pengaksama

D. Memohon Tirta
1. Penghayatan terhadap Sang Hyang Tirta/Dewi Gangga
2. Memohon tirta pengelukatan
3. Memohon tirta wangsuh pada

E. Menghaturkan banten/sesaji byakawon, prayascita, durmengala.
1. Byakawonan
2. Tepung tawar segau
3. Buhu-buhu
4. Telor pada isuh-isuh
5. Kekosok
6. Tetebus
7. Isuh-isuh
8. Memercikan tirta dengan lis
9. Prayascita
10. Durmenggala

F. Mensucikan Sesajen Semua sesajen diperciki tirta pengelukatan
G. Menhaturkan Sesajen
1. Sesajen dalam bentuk pejati
2. Sesajen dalam bentuk canang
3. Sesajen dalam bentuk pras
4. Muktiang sesaji kepada Sanghyang Widhi, para Dewa, dan Bhatara
5. Ngayabang banten di pelinggih
6. Ngayabang banten di lapan
7. Mengaturkan sesaji dalam bentuk segehan
8. Prenamya kepada sarwa kala
9. Ngayabang banten di bawah / di sor (segehan)

H. Persembahyangan bersama
1. Tri Sandya
2. Panca Sembah
3. Metirta
4. Pakai Bija
I. Puja Pralina

J. Penutup

Demikian urut-urutan yang harus dipahami terlebih dahulu oleh manggala Upacara di dalam memimpin pelaksanaan upacara, baru memilih mantra-mantra sesuai dengan urut-urutan tadi. Mantra-mantra yang tercantum dalam uraian halaman berikut brosur ini tidaklah bersifat baku, namun setiap manggala diharapkan juga dapat memilih dan menambahkan mantra-mantra lain yang belum kami cantumkan pada uraian brosur ini. Sekian mudah-mudahan sukses.  
Om Santih, Santih, Santih, Om

TUGAS MANGGALA UPACARA
Sikap dan laksana manggala/pinandita atau pemangku agama Hindu pada waktu memimpin upacara.
A. PERSIAPAN
1. Memakai busana
a. Mawastra (memakai kain panjang)
    Mantra : Om tas wastra mami, bhuda bhusana ya namah swaha.
b. Mekampuh (bentuk kain yang lebih kecil yang diikatkan pada pinggang diatas kain panjang)
    Mantra : Om Kawacana mami Bhuda wisesa sudha nirmala ya namah swaha
c. Mapetet (memakai ikat pinggang dari kain yang menyerupai selendang)
    Mantra : Om tas pragya mami bhuda sidhi ya namah swaha
d. Makawaca (kain yang diikatkan di kepala sebagai penutup kepala/udeng)
    Mantra : Om Hrung kawaca ya namah swaha.
2. Disiapkan sesaji dan air suci (pembersihan) ditempat memimpin upacara.
3. Disiapkan peralatan yang dihadapi oleh manggala upacara seperti :
    a. Disebelah kiri Sebuah tempat berisi kembang, air suci, bija dari beras, bajra/genta (kalau      
        mempergunakan)
    b. Disebelah kanan Disiapka sebuah tempat berisi pasepan/padupaan dan sebuah tempat berisi air untuk
        mencuci tangan.
    c. Didepan Terdapat saji-sajian khusus untuk manggala upacara.

4. Menaruh sesajen /banten di pelinggih.
  • Mantra :
  • Om tamolah pancapacara guru paduka ya namah swaha
  • Om lingga purusa ya namah swaha  
5. Menaruh asep/dupa dipelinggih
  • Mantra : Om Brahma dupa, tri purusa ya namah swaha  
6. Menaruh air dipelinggih untuk memohon tirta wangsuhpada.
  • Mantra : Om pukulun paduka Bhatara, hulun angaturaken tirta nunas aneda wangsuh pada Sang Hyang Siwa, Sada Siwa, Parama Siwa ya namah swaha.  
B. SIKAP DASAR MANGGALA UPACARA
Setelah persiapan upacara selesai, lalu manggala upacara mulai mengambil/mengatur sikap dengan cara sebagai berikut : Om, awignam astu namo sidham.  
1. Cuci tangan Mantra : Om Hrah phat astra ya namah
2. Berkumur Mantra : Om ung phat astra ya namah
3. Asana (sikap bersila/bersimpuh) Mantra : Om prasadha sthiti sarira Siwa suci nirmala ya namah
4. Pranayama (mengatur pernafasan)
a. Puraka yaitu menarik nafas Mantra : Om Ang namah
b. Kumbaka yaitu menahan nafas Mantra : Om Ung namah
c. Racaka yaitu mengeluarkan nafas Mantra : Om Mang namah

5. Karasodana yaitu membersihkan tangan dengan cara tangan disusun telapak tangan menengadah.
a. Tangan kanan diatas Mantra : Om Sudhamam Swaha
b. Tangan kiri diatas Mantra : Om Ati Sudhamam Swaha

6. Membakar dupa/pasepan Mantra : Om Ang dhupa dipa astra ya namah
7. Menghirup asap dupa dengan cara tangan diasapi lalu dihirup berulang-ulang tiga kali.
    Mantra :
    a. Om ang Brahmamrtha dipa ya namah Om ung Wisnumrtha dipa ya namah Om mang Iswaramrtha dipa
        ya namah
    b. Mantra Praktisnya Om mang Iswara Paramasiwa ya namah swaha
        • Om, Pakulun sanghyang kawiswara, sanghyang guru reka, sanghyang saraswati, lugraha sesolah ulun,
           selampah tan kneng wighna lara, dandha utphata mwang tan kopedrawa de hyang sinuhun.
        • Om, Ang Ung Mang, Siwa, sada siwa, parama siwa, sabda bayu idep sudha nirwighna ya namah.
        • Om, Ang Ung Mang, Ung, Mang, Ang Ah, Om.

8. Mensucikan bija Mantra :
  • Om Puspa danta ya namah
  • Om kum kumara wija ya namah
  • Om sri gandaswari amrtha bhyo ya namah swaha
  • Om, ghrim wausat ksama sampurna ya namah (tebarkan beras untuk menyucikan sarana upakara). 
  • Pukulun paduka bhatara manusanira hangaturaken sajeng pemendak (tabuh 3x). 
  • Om, indah takita sang bhuta mangan mantra, nini bhuta natra antra, mwang sang bhuta kala dengen, aturaken sarining ulun ripada sanghyang saraswati, sira tinanggap deningsun wehana kasidianku 3 x  
9. Menuntun Atma dengan sikap tangan mudra didepan dada, mantra;
  • Om ang hrdhaya ya namah,
  • Om rah phat astra ya namah,
  • Om hrang hring sah parama siwamrtha ya namah. 
10. Dilanjutkan dengan mengambil kembang terlebih dahulu diasapi dengan dupa, mantra;
  • Om puspa dantha ya namah swaha Dilanjutkan dengan Astra mantra 
  • Om ung hrah phat astra ya namah,
  • Om atma tatwatma sudhamam swaha
  • Om om ksama sampurna ya namah
  • Om sri pasupati um phat
  • Om sriambawantu ya namah
  • Om sukhambawantu ya namah
  • Om purnambawantu ya namah swaha. (Artinya; Kami bersujud kepadaMU, yang dilambangkan dengan aksara hum, rah dan phat, kami bersujud kepada nyala api suci. Kami bersujud kepadaMU yang berwujud sebagai Atma, yang juga Atma tattwa sucikanlah kami.. Kami bersujud kepadamu yang maha sempurna, pengendali diri dan maha pengampun. Kami bersujud kepadaMU yang dilambangkan sebagai aksara hum dan phat, kami bersujud kepadaMU sebagai Sri Pasupati.. Ya Tuhan, Engkau Maha Mulia, Maha Bagahagia, dan Maha Sempurna)
  • OM Om Om bhur bhwah swah tat sawitur warenyam bhargo dewasya dimahi dyoyonah pracodayat 3 x (menyucikan diri)  
11. Kalau memakai genta, ambil gentanya diperciki tirta, asapi dengan dupa dan ngastawa,mantra;
  • Om, kara Sadhasiwa stham, Jagatnatha hitangkarah, Abiwada wadaniyam,Ghanta sabda prakasyate.
  • Om Ghanta sabda mahasretam,Ongkarem parikirtitam, Chandra nada windu nadakam,
  • Spulingga Siwa tatwamca.
  • Om Ghantayur pujyate Dewa, Abhawa-bawa karmesu, Waradah labdha sandeyah,Waram siddhi nir samsayam. 
12. Sesudah ngastawa genta pentil palit genta sebanyak tiga kali, mantra;
  • Om – Om – Om, kemudian genta itu ditaruh
  • Om ang kang kasolkaya ya namah  
13. Memohon Sang Hyang Widhi agar berstana di Padmasana dengan sikap ambil kembang dan bija lalu  
      diasapi dan dipegang dengan sikap mudra ditaruh di depan dada, mantra;
  • Om Om anantasana ya namah.
  • Om rm dharma simha rupaya swetha warna ya namah.
  • Om rm jnana simha rupaya rakta wama ya namah.
  • Om lm wiragya simha rupaya pita wama ya namah.
  • Om lm Iswarya simha rupaya kresna wama ya namah.
  • Om Om padmasana ya namah swaha.
  • Om I Ba Sa Ta A.
  • Om Ya Na Ma Si Wa.
  • Om Mam Um Am namah.
  • Om Om Dewa Pratista ya namah.
  • Om Sa Ba Ta A I.
  • Om Na Ma Si Wa Ya.
  • Om Ang Ung Mang namah.
Selesai mengucapkan mantra bunga ditaburkan kedepan.

14. Kemudian menghayat Sang Hyang Siwa Raditya, Bhatara dan Dewa Maheswara memakai kembang
      dengan sikap Amustikarana, mantra;
  • Om Om anantasana ya namah,
  • Om Om padmasana ya namah
  • Om padma pratista ya namah,
  • Om Om dewa pratistha namah
  • Om hrang hring sah parama siwaditya ya namah swaha. (Artinya; Kami bersujud kepadamu yang berada di tempat duduk yang abadi.
  • Om Sang Bang Tang Ang Ing Nang Mang Sing Wang Yang
  • Om Ang Ung Mang namah swaha
  • Om Mang Ung Ang,
  • Om sri guru bhio namah
15. Mengaturkan sembah kepada Sang Hyang Siwa Raditya, mantra;
  • Om Adityasia paramjyotir,Rakta teja namostute Siwageni teja mayanca,Siwa Dewa wisiantakem
  • Om Padma lingganca pratista,Astadewa prakirtitam Siwagraha sangyuktam,Ganaksaram sadasiwa
  • Om Sa Ba Ta A I, Na Ma Si Wa Ya,Ang Ung Mang
16. Menyambut para Dewa, Batara, ambil kembang dengan sikap Amustikarana, mantra;
  • Om Pranamia sang linggam,Dewa linggam maheswara Sarwa dewati dewanam,Tasme lingga yawe namah
17. Mengaturkan asep kepada para Dewa dan Bhatara, mantra;
  • Om Ang Brahma sandhya namo namah
  • Om Ung Wisnu sandhya namo namah
  • Om Mang Iswara sandhya namo namah
C. PENGAKSAMA
Selanjutnya kita dahului dengan memohon maaf kehadapan Sang Hyang Widhi beserta manifestasinya. Mantra :
  • Om Ksama swamam Maha Dewa, Sarwa prani hitangkarah, Mammocca sarwa papebhyah, Palayaswa Sada Siwa.
  • Om Papoham papa karmaham, Papatma papa sambhawah, Trahinam sarwa papebhyah, Kanacin mam ca raksantu.
  • Om Ksantawyah kayika dosah, Ksantawya wacika mama, Ksantawya manasa dosah,Tat prasiddha ksamaswa mam.
  • Om Hinaksaram hina padam,Hina mantram tathaiwaca, Hina bhaktim hina wrddhim, Sada siwa namo stute. Om Mantra hinam kriya hinam, Bhakti hinam maheswara, Yat pujitam Mahadewa,Pari purnam tadastune.
D. MEMOHON TIRTA
  • Sesudah itu barulah memohon tirta dengan sikap sama seperti di atas Siro-vista-sivambha; sirovistam maha divyam, pavitram papa nasanam, nityam kusagram tisthati, sidantam pratigrhnati.
  • Om hum rah phat astraya namah (Artinya; Semoga simpul rumput keilahian memnersihkan dan menghancurkan kejahatan, semoga ujung rumput kusa yang kokoh mendukung dia yang duduk diluar hati. Kami bersujud kepadaMU yang dilambangkan dengan aksara hum,rah dan phat, kami bersujud kepada nyala api suci).

1. Pemujaan terhadap Sang Hyang Tirta/Dewi Gangga memakai kembang dan genta, mantra;
  • Om Pranamya baskara dewam,Sarwa klesa winasanam, Pranamia ditya siwartham,Bukti mukti warapradam.
  • Om Gangga Saraswati sindhu,Wipase kosiki nadi Yamuna mahati trostah,Serayunca maha nadi
  • Om Panca Tirtha pawitram,oksha klesa wimoksanam Sarwa papa winasanam,Bhuta bhuti wiprabatam
  • Om Gangga sindu Saraswati,Suyamuna godawari narmada Kaweri sarayu mahendra tanaya,Carmanwati winukam.
2. Memohon tirta pengelukatan, mantra;
  • Om Sang Bang Tang Ang Ing, Nang Mang Sing Wang Yang
  • Om Hrang Hring Sah Parama, Siwa gangga amerta ya namah swaha
  • Om Gangga Saraswati suniam,Jaya tirta mahotamam Jaya sri jaya murtinam,Sarwa rogha winasanam
  • Om Pancaka tirta pawitranam, Sarwa wighna winasanam Sarwa papa winasanam, Sarwa mala pratistanam
  • Om Ayuwerdi yasawerdi, Werdi pradnya suka sriyam Dharma Santana wredisca Santute sapta wrdayah
3. Memohon Tirta Wangsuhpada

a. Apsu Dewa Mantra :
  • Om Apsu dewa pawitrani, Gangga dewi namo stute, Sarwa kleca winasanam, Toyane pari cudhyate  
  • Om Sarwa papa winacini, Sarwa roga wimocane, Sarwa kleca winacanam, Sarwa bhogam awap nuyat.
b. Pancaksara Mantra :
  • Om Pancaksaram maha tirtham, Pawitram papa nasanam, Papa koti sahasranam, Agadam bhawet sagaram. Om Pancaksaram para Brahman, Pawitram papa nasanam, Mantrantam parama jnanam, Siwa loka pratham subham.
  • Om Namah Ciwaya ity evam, Para Brahmatmane wandam, Para saktih panca dewah, Panca rsyam bhawet aghni.
  • Om A-karas’ca u-karas’ca, Makaro windu nadakam, Pancaksaram maya proktam,
  • Ongkara aghni mantrake.  
  • Om Bhur bwah swah, maha Gangga tirta pawitrani ya namo namah swaha.
c. Penganggaan, mantra;
  • Om gangga saraswati sindhu, wipase kosiki nadi, yamuna mahati srestah, sarayunca maha nadi.  
  • Om gangga sindhu saraswati, suyamuna godawari narmada, kaweri sarayuh mahendra tanaya, carmanwati venuka.  
  • Om bhadra netrawati, maha suranadi khyatan ca ya gandaki punyah purna jalah samudra sahitah kurwantute manggalam  
  • Om gangga dewi maha punya namaste wiswa bhamini yamune parame punye namaste paramecwari  
  • Om sarwa wighna winasyantu sarwa kleca winacyantu sarwa dukha winacaya sarwa papa winacaya ya nmo namah swaha. 
d. Mrtyunjaya dan Ayu Werddhi, mantra;
  • Om Mrtyunjayasya dewasya, Ye namany anukirtayet, Dirghayusyam awapnoti, Sanggrame wijayam bhawet. Om Ayu werdhi yaca werddhi, Werdhi prajna sukha criyam, Dharma santana werddhis ca, Santute sapta werddhayah.
  • Om Wyavan meru sthito dewah, Yawad gangga mahitale, Candrarko gagana yawat, Tawatwa wijayam bhawet.
  • Om Dirghayur astu tat astu swaha.
E. MENGATURKAN BANTEN BHAKAON, PRAYASCITA, DURMENGALA

1. Byakaon Mantra :
  • Om Kaki bhuta panampik mala,Kaki bhuta panampik lara, Kaki bhuta panampik klesa, undurakena bhaya kalaning manusaning hulun.  
  • Om Ksama sampurna ya namah See Pakulun Hyang Bhatara Kali, Bhatara Hyang Sakti, Sang Kala Putih, Sang Kala Bang, Sang Kala Pita, Sang Kala Ireng, Sang Kala Manca Warna, Sang Kala Anggapati, Sang Kala Pari, Sang Kala Sedahan, aja sira anyengkala, manusanira angastuti Hyang Dewa Bhatara ring parahyangan sakti, reh ingsun angaturaken tadah sajianira. Bhatara kala punika buktin neruda nira kabeh. Om kala-kali bhyobhuktaya namah.
  • Om ksama sampurnaya namah.
  • Om sarwa kala laksana ksamen ya namah swaha.
2. Tepung tawar, segau, mantra;
  • Om Sajna asta sastra empu sarining wisesa, tepung tawar amunahaken, segau angeluaraken, sakwehing sebel kandel lara rogha baktanmu.
3. Buhu-buhu, mantra;
  • Om Sweta tirtanca nityam, pawitram papa nasanam, Sarwa rogasca nagasca, sarwa kala- kalisu wina sanam Om Rakta tirtanca, om kresna tirtanca, om sarwa tirtanca yawe namo namah swaha. Mantra Lis
  • Om, angadeg sira janur kuning, tumurun bhatara Siwa, anemu ta manusa ring madyapada, Hyang Brahma, Hyang Wisnu, Hyang Iswara ya namah swaha.
  • Om, jreng jreng sabur , angilangakna mala patakaning sang lis-lisan.
  • Om, sabur sweta, sabur rakta, sabur pita, sabur kresna, sabur manca warana.
  • Om, ksama sampurna ya namah swaha.
4. Telor pada isuh-isuh, mantra;
  • Om Antiganing sawung, pengawakaning sang hyang gala Candu, sagilingan kalisakna lara, rogha, mala, pataka kabeh.
  • Om sah aset namah.
  • Om Bam Bama-dewaya angiberaken lara, rogha, papa klesa, mala wighna, sarwa dewa-dewi kabeh.
  • Om Sri yawe namo namah swaha.  
5. Kekosok, mantra;
  • Om Tresna taru lata kabaretan kalinusan dening angin, angampuhang mala wighna kabeh,  
  • Om Sidhirastu ya namah swaha.
6. Tetebus, mantra;
  • Om Raga wetan angapusaken balung pila pilu, Angapusaken otot pilu, den kadi langenging Sang Hyang surya, mangkana langgenging angapusaken kang tinebus-tebas.
  • Om Sampurna ya namah swaha.
7. Isuh-isuh, mantra;
  • Om Sang Hyang Taya tanpa netra, tanpa cangkem, tanpa karna, Sang Jati Sukla Nirmala, sira mangisuh-isuhing sarwa dewata, angilangaken sarwa bhuta kala dengen ring pada bhatara kabeh, bhayta kita saking kulit, ring balung, ring sumsum, mantuk ta kita maring jipang sabrang melayu.
  • Om Mam Nama Siwa ya swaha.
8. Memercikan tirtha dengan lis, mantra;
  • Om Sang janur kuning pangadeganira turun Bhatara Siwa kabaktaning janma manusa kabeh
  • Om sam sampurna ya namah Lalu diperciki tirtha dengan mantra;
  • Om jreng jreng sabuh angadeg angilangakna sarwa kala ireng sang linislisan
  • Om sabur sweta, sabur rakta, sabur pitha sabur krsna, sabur manca warna sarwa karya prayascita ya suci nirmala ya namo namah swaha.
9. Prayascita, mantra;
  • Om Prayascitta karo yogi, catur warna wicintayet, catur wastram sa-puspadyam,AM GHOM REM BYAS tathottamam.  
  • Om agni rahasia mukam mungguh bungkahing hati, angeseng salwiring dasa mala, teka geseng, geseng, geseng 
  • Om prayascita subagiyamastu ya namah swaha.(Geriya Cepaka Galingan Mengwi).  
10. Durmanggala, mantra;
  • Om Sang Kala Purwa, Sang Kala Sakti, Sang Kala Braja, Sang Kala Ngulalang, Sang Kala Prete, Sang Kala Suksma. Aja sira pati papanjingan pati paperet ngi, iki tadah sajinira, penek lawan trasi bang, bawang, jahe, anadaha sira tur lunga, manawi kirang tadahan iki jinah satak selawe, lawe satukel, meraha sira ring pasar agung, nggena tuku ring pasar agung wehan sanak rabinira sowang-sowang ajasira mawali muwah pada ewahana pada sidi swaha.
  • Om mrtyunjaya rakta saraya sarwarhoga upadrawa, papa mretyu sangkara, sarwa kali kalika sah wigraha agawe pada, susupna durmanggala, papa kroda winasaya sarwa wighnaya nama swaha.
F. MENSUCIKAN SESAJEN

1. Sesudah itu sesajen disucikan dengan mantra;
  • Om Sang Hyang Tiga Murti Hyang, Sang Hyang Ekajnana cuntaka, Sang Hyang Suci Nirmalajnana, makadi bhatara malingga ring babanten kararaban, karapwan denamel dening wong campur, kararaban roma, kwaltikaning cona, kaparodaning wak, kapryascita den ira Sang Hyang Tiga Murti Hyang, Sang Hyang Ekajnana cuntaka, Sang Hyang Suci Nirmalajnana.
  • Om criyo wai ya namo namah swaha
2. Semua sesaji yang dipersembahkan diperciki dengan tirtha penglukatan, mantra;
  • Om om sampurna ya namah.  
  • Om sudha, sudha, sudha, parisudha ya namah.
  • Om sudha akasa, sudha bumi, sudha wighna, sudha mala, sudha papa klesa, kasudha dening Sang Hyang Trilokanatha
  • Om Sidhirastu tat astu swaha.
G. MENGATURKAN SESAJEN
     
     Pengaksama;  
  • Om, Pakulun paduka bathara Siwa, Sadasiwa, Parama Siwa, makadi sira Sang Hyang Tiga Guru Wisesa, Sang Hyang Surya Candra Lintang Tranggana, makadi sang hyang triodasa saksi, kaki Bhagawan Penyarikan, nini Bhagawan Penyarikan, kaki Bhagawan Citragota, nini Bhagawan Citragota, kaki Samantara, nini Samantara, kaki Penyeneng, nini Penyeneng, kajenengana denira Sang Hyang Tiga Wisesa,kaweruh nugraha Sang Hyang Wesrawana, manusanira anembah angaturaken………. ripada Bhatara, raina …….wuku……manusanira bipraya angadakaken upakara (jenis upakara) .melarapan antuk saturan (jenis banten) dumogi henak hyun paduka bhatara tumedun amuktisari, anyaksinin amuputaken sopakaraning manusanira, manawi ta wenten kirang saturan ipun den agung sinampuraken, akedik kangsun angaturaken agung pamilakunya, hamilaku kadirgayusan, kesantosaan mwang kerahayuan rat kabeh, domogi ledang paduka bhatara wehana waranugraha, tan kekeneng hila-hila mwang tan kopedrawa de hyang sinuhun. 
  • Om, siddhirastu ya namah swaha.
       Pengayat ke Surya 
  • Om Om padmasana ya namah,
  • Om Om anantasana ya namah,
  • Om Om dewa dewi pratistha ya namah.
  • Om Aditya sya param jhotir,Rakta teja namostute, Sweta pangkaja madhyasta,Bhaskara ya namo namah . Om Aditya garbha pawana,Adtitya dewa raja twam, Aditya twam gatir asi,Aditya caksur ewasca.  
  • Om aditya jata wedasa,Aditya janopa suryah, Surya rasmir hrsi kesa,Surya sttwam maha wiryam.
  • Om rang ring sah parama siwa aditya ya namah swaha.
       Kahyangan stawa 
  • Om indragiri murthi dewam,Loka natha jagatpati, Murti wiryam Ludra murti,Sarwa jagat pawitranam.
  • Om indragiri murtya lokam,Ciwa murti prajapati Brahma, Wisnu maheswaram,Sarwa jagat prawaksyamam. Om Surya dewa mahadewa,Ciwa Agni teja maya, Ciwa Durgha kali sira,Dewa sarwa wisyantakem.
  • Om Ciwa Yama Warunas’ca,Ciwa pasu mregha paksi, Sarwa dewa Ciwa dewa,Guru dewa Jagatpati.
  • Om giripati murtya dewam,Loka sakti jagat sriya, Brahma, Wisnu, Maheswaram,Tri Purusa murti dewam.
       Tri Guru Stawa 
  • Om Dewa dewi tri dewanan, tri murti tri lingganam, tri purusa murti dewam, sarwo jagat prawitranam.
  • Om guru rupam guru dewam, , guru purwam guru madyam, Guru pantaram dewam, guru dewam suddhatmakam.
  • Om Brahma Wishu Iswara dewam, jiwatmanam tri lokanam, sarwa jagat pratistanam, sudha klesa winasanam.
  • Om guru paduka byonamah swaha.
1. Mengaturkan sesajen dalam bentuk pejati, mantra;
  • Om Siwa sutram yadnya pawitram, paramam pawitram prajapati jyogayusyam, balamastu tejo paramam, gohyanam triganam triganatmakam.  
  • Om Namaste bhagawan agni, namaste bhagawan ari, namaste bhagawan isa, sarwa baksa utasanam.
2. Untuk sesaji dalam bentuk canang dengan Tri bhawana, mantra;
  • Om Parama Ciwa twam gohyah Ciwa tatwa parayanah Ciwasya pranato nityam Candisaya namo’stute  
  • Om newidyam Brahma Wisnucca, bhoktra dewa mahecwaram, sarwa wyadin alabhati, sarwa karyanta siddhamtam.
  • Om jayarti jayam apunyat, ya cakti yacam apnoti, ciddhi sakalam apnuyat, Parama Ciwa labhati.
  • Om bhoktra laksana ya namo namah swaha.
3. Untuk sesajen dalam bentuk pras, mantra;
  • Om panca warna bhawet Brahma, Wishnu saptawara waca, Sadwara icwara dewacca, astawara Ciwo jnejah. Wrhaspati pinaka wit, Soma pinaka bungkah, Anggara pinaka godong, Buddha pinaka kembang, Sukra pinaka woh, Saniccara pinaka kulit, Redite pinaka warna.  
  • Om sarwa pras pranajanam, sarna karya praciddha ya ciddhi bhawantu, ya namo namah swaha.
4. Ayu Wreddhi, mantra;
  • Om Ayu wreddhi yaca wreddhi, wreddhi prajna sukha criyam, dharma santana wreddhis ca, santute sapta wreddhayah.  
  • Om yawan meru stitho dewah, yawad Gangga mahitale, candrarko gagana yawat, tawad wa wijayem bhawet.
  • Om dirghayur astu tad astu-astu swaha.
5. Selanjutnya muktiang sesajen kepada Sang Hyang Widhi, para Dewa dan Bhatara, mantra;
  • Om Dewa buktam maha sukam bojanam parama samertam dewa bhoksa maha tustam boktre laksana karanam  
  • Om Bhuktiantu sarwata dewa bhuktiantu tri lokanam saganah sapari warah sawarga sadasi dasah
  • Om Dewa boktre laksana ya namah  
  • Om Dewa trepti laksana ya namah
  • Om Treptia parameswara ya namah swaha
6. Ngayabang banten di pelinggih, mantra;
  • Om Parama siwa tanggohyam siwa tattwa parayanah siwasya pranata nityam candiscaye namostute
  • Om Niwedyam brahma wisnusca bhoktra dewa maheswaram sarwa wyadim alabate sarwa karyanta siddhantem  
  • Om Jayarte jayamapnuyat ya sakti yasa mapnoti sidhi sakala mapunyat parama siwa labhate
7. Ngayabang banten di lapan seperti; pengulap, pengambeyan, mantra;
  • Om Kaki prajapati, nini prajapati, Kaki samantara, nini samantara kaki citragotra, nini citragotra, ingsun angulapi atmanipun …….., maring purwa, maring daksina, maring pascima, maringuttara, maring madya, ingsung angambe atman pun si …, rumaksa ring awak sariran ipun  
  • Om Siddhirastu.
8. Mengaturkan segehan putih atau manca warna, mantra;
  • Om Sang Kala Ekawara, Sang Kala Dwiwara, Sang Kala Triwara, manusanira angaturaken tadah saji ring jeng sang Kala kabeh, mangden sampun kataman sisip ring sang Kala Tiga, poma-poma-poma  
9. Pranamya kepada sarwa Kala Bhuta Bucari, mantra;
  • Om Durghapati masarira, kala kingkara moksatam, kala Mertyu punah citram, sarwa wighna winasanem.  
  • Om Mang Ung Ang namah swaha wosat.
  • Om Sidhirastu ya namah.
  • Om Ang Ung Mang.
  • Om Sa Ba Ta A I – Na Ma Si Wa Ya.
10. Ngayabang banten sor (segehan),mantra; 
  • Om Ang Kang kasolkaya isana wosat.  
  • Om Swasti swasti sarwa bhuta kala. suka ya namah swaha.
  • See : Riwus sira amuktiaken caru, muliha sira ring pasenetan nira sowang-sowang, haywa sira ulih silih gawe, haywa ngrubeda, anyengkalen Bhatara Dewa ring kayangan sakti.
  • Dilanjutkan dengan metetabuhan (arak berem).  
  • Mantra : Om ebek segara, ebek danu, ebek banyu pramananing hulun.
1. Nasi panca warna
  • Om, sang kala gumarang, sang kala anggapati raja, sang kala bedawang,sang kala wisaya,sang kala sakti, sang kala daut rah, raksanira bhatari durgha, sampun ta sira anyengkala sang apara caru, apan ana sajining iwak-sura, sekul sapulung, sama henak ta sira pada rahayu. 
  • Om, siddhirastu ya namah. ( Bidja Md, Manggala Upacara,1990)
2. Caru manca sata,
  • Om, pakulun sang bhuta Krura, potika Purwa, Umanis panca warania, lah sira amukti caru, ajaken sanakira 555 kabeh, wus amukti, mantuka sira maring kahyangan, rumaksa sang adruwe caru (perciki tirta)
  • Om, pakulun sang bhuta Janggitan, potika Daksina, Pahing pancawarania, sira pada amukti caru, ajaken sanakira 999 kabeh, mantuka sira maring kahyangan, rumaksa sang adruwe caru. perciki tirta)
  • Om, pakulun sang bhuta Lembukarana, potika Pascima, Pon pancawarania, sira pada amukti caru, ajaken sanakira 777 kabeh, mantuka sira maring kahyangan, rumaksa sang adruwe caru perciki tirta) 
  • Om, pakulun sang bhuta Langkir, potika Utara, Wage pancawarania, sira pada amukti caru, ajaken sanakira 444 kabeh, mantuka sira maring kahyangan, rumaksa sang adruwe caru perciki tirta)
  • Om, pakulun sang bhuta Sakti, potika Madya, Kliwon pancawarania, sira pada amukti caru, ajaken sanakira 888 kabeh, mantuka sira maring kahyangan, rumaksa sang adruwe caru
  • Om, siddhir astu ya namah. Mantra tirta caru:
  • Om, Korsika iswara rupam, twam Garga Brahma rupaya, Metri Mahadewa dewam, Kurusya Wisnu Dewa ya, Pratanjala Siwa rupam, sarwa papa winasanam, sarwa wighna winasaya, sarwa klesa winasaya.
  • Om, namo namah swaha. ( Bidja Md, Manggala Upacara,1990)
3. Gelarsanga
  • Om, Indah ta kita sang bhuta dengen, iringan ingon-ingon Sang Hyang Pasupati, sang bhuta Anggapati aranya, kita angelingana Sang Bhuta Sangha, iki mene kabhukti denira, iwak karangan, nasi pangkonan, sinusunan sawung anyar, sajeng sakoci, tan sinaringan, iki tadah sajinira, ajaken sanakira samodya, manawi ta wenten kirang kaluputanipun, mangda sampun ta sira bangga puraka, Ingsun aminta kreta nugrahanira mangda rumaksa dinulur lampah lakon sang apara caru, dirghayusa mwah urip, tekan kesadyanipun, nutugaken Dharma kalepasan. 
  • Om, hrem Kalastra,sarwa Kala sampurna ya namah swaha.
  • Om ang kang kasolkaya swasti-swasti, sarwa bhuta kala predhana purusa bhoktya namah swaha.
H. DILANJUTKAN PERSEMBAHYANGAN BERSAMA

1. Puja Tri Sandhya
2. Muspa Panca Sembah
a. Sembah tangan kosong 
  • Mantra : Om Atma tatwatma sudhamam swaha 
b. Sembah memakai kembang kepada Ciwa Raditya 
  • Mantra : Om Adityasya paramjyotir, Rakta teja namostute Sweta pangkaja madhyaste Baskaraya namostute, Om Pranamya baskara dewam sarwa klesa winasanam pranamya ditya siwartham bukti mukti warapradam, Om Hrang hring sah parama siwa ditya ya namah swaha.  
c. Sembah memakai Kembang/Kewangen ke Dewa Samodaya
    Mantra : Om Namo Dewaya adhisthanaya Sarwa wyapinesiwaya Padmasanaya ekaprathisthaya Ardha    
    nareswarya ya namah swaha. dilanjutkan dengan pengastawa ista dewata atau yadnya sbb:  
  • Pura Desa : Om Isanah sarwa widhyanam,Iswarah sarwo bhuthanam, Brahmana dhipatir brahma,Sarwa jagat pramoditam.  
  • Pura Puseh /galungan/ kuningan/ pagerwesi : Om, Giri murti mahawiryam,Mahadewa pratistha linggam, Sarwa dewa pranamyanam,Sarwajagat pratisthanam.  
  • Pura Dalem : Om, catur dewya maha sakti,Catur asrama bhatari, Siwa jagatpati dewi,Durgha masarira dewi.  
  • Prajapati : Om, brahma prajapati srestah,Swayambhur warado guruh, Padmayoni catur waktro,Brahma sakalam ucyate  
  • Padmasana/ luhuring akasa : Om, akasa nirmala sunyam,Gurudewah wyomantaram, Siwa nirwanam wiryanam, reka om kare wijayam.
  • Pura Segara : Om Nagendra krura murtinam,Gajendra matsya waktranam, Baruna dewa masarirem,Sarwa jagat sudhatmakam.  
  • Pura Batur/ ulun suwi/ ulundanu : Om, Sridhana dewika ramya,Sarwa rupawati tatha, Sarwa jnana maniscaiwa,Sri sridewi namo’stute.  
  • Saraswati : Om, Saraswati namastobhyam,Warade kama rupini, Siddha rambham karisyami,Siddhir bhawantu me sada.  
  • Dangkahyangan : Om, Dwijendra purwanam siwam, Brahmanam purwatistanam, Sarwa dewa massariram,Surya niskaram dewam.  
  • Purnama/Tilem :  
  • Ganesha : Om, abhimartha artham, Pujitam ya suarairapi, Sarwa wighna winasaya, Gana dipata ya namah.  
d. Sembah memakai kewangen untuk memohon waranugraha
  • Mantra : Om Anugraha manoharam Dewa datha nugrahakam Hyarcanam sarwa pujanam Namah sarwa nugrahakam Om Dewa dewi maha sidhi Yajnanga nirmalatmaka Laksmi sidhisca dirgayuh Nirwighna suka wreditah Om Ghring anugraha arcanaya namo namah Swaha Om Ghring anugraha manuharaya namo namah swaha
e. Sembah tangan kosong
  • Mantra : Om Dewa Suksma Paramecintya ya nama swaha
3. Dilanjutkan dengan matirtha dan Mabija 
    Matirtha Dipercikan tiga kali di kepala, mantra : 
  • Om Budha pawitra ya namah  
  • Om Dharma maha tirtha ya namah  
  • Om Sanggya maha toya ya namah .
Mantra :
  • Om Brahma pawaka ya namah  
  • Om Wisnu amertha ya namah
  • Om Iswara jnana ya namah (minum 3x)
Mantra :
  • Om Siwa sampuna ya namah  
  • Om Sadhasiwa paripurna ya namah
  • Om Paramasiwa suksma ya namah (mesugi 3x)  
Memakai kembang ditelinga, mantra;
  • Om sri asmara ya namah 
Mabija , mantra :
  • Om wija-wija kara ya namah  
I. Memohon Ampun Kepada Sang Jagatnantha
  • Om ksama swamam jagatnatha, sarwa papa nirantaram; sarwa karya siddham dehi, pranamia sura suaren. Om, twam surya twam siwam karam, tuam ludra bahni laksanam, twamhi sarwa gathotkarah,mamo karya prayojanam.
  • Om, ksama swamam maha saktyem, hyati suarem gunatmakam, mascayet stata papam, sarwa loka darsanam (Oh pelindung dunia, ampunilah kami yang selalu berbuat salah dan selalu dalam penderitaan. Berilah kekuatan pada semua tindakan-tindakan kami. Kami memuja Dewa dari para Dewa. Engkau adalah Matahari, Engkau adalah wujud yang Maha Suci. Engkau adalah Rudra sifatmu seperti api; karena engkau meliput segalaNya. Semoga pemujaan kami berhasil. Ampunilah kami, oh yang maha kuasa, karena engkau memiliki sifat yang satu yang diuraikan menjadi delapan sifat kemahakuasaan. Semoga engkau melebur semua tindakan-tindakan salah yang saya lakukan. Dan diri kami menjadi seperti kaca bersinar).
J. PUJA PRALINA
    Kalau rangkaian upacara itu sudah selesai dilanjutkan Puja Pralina;
    Mantra :
  • Om A Ta Sa Ba I, Om Na Ma Si Wa Ya,
  • Om Ang ksama sampurna ya namah swaha.
     Kalau memakai genta lalu pentil palit genta sebanyak tiga kali;
     Mantra : Om – Om – Om
     Kemudian gentanya ditaruh.
     Mantra : Om Ang Kang kasolkaya namah swaha.

K. PENUTUP
     Rangkaian upacara oleh Manggala ditutup dengan parama santhi
     Mantra : Om santhi, santhi, santhi, Om  

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar